Aku duduk sendiri, pandanganku tertuju pada seseorang di balik kaca di kejauhan sana, dengan senyuman yang tak asing di mataku, ia melambaikan tangannya. Orang yang sangat aku hargai, sangat aku hormati, aku cintai dan aku sayangi. Ia bapakku. Seiring dengan langkah bus yang membawaku pergi terlintas di benakku, atas apa yang telah beliau lakukan terhadap hidupku selama ini. Beliau yang mendidikku, yang rela bekerja membanting tulang ikhlas mengeluarkan keringatnya biar aku hidup. Detik demi detik, hari demi hari bahkan tahun demi tahun apakah yang dapat kulakukan untuk membalas semua pengorbanannya? Sering aku melawan jika beliau marah karena kenakalanku, sering aku tutup telinga ga mau dengerin nasihatnya. Sering juga aku banting pintu jika beliau tidak mengabulkan permintaanku. Tapi, apakah beliau memendam rasa dendam terhadapku? Tidak! Tidak sama sekali. Bahkan ketika aku jatuh pun, beliau memberikan sayap sayap nya agar aku dapat bangkit dan terbang lagi. Beliau dapat tulus memaafkan kehilafanku. Bahkan beliau tetap menyebut namaku dalam setiap doa doa nya hingga kini aku masih bisa bertahan sampai saat ini. Tak sadarkah aku, bahwa kini aku telah memiliki seseorang yang paling berarti dalam hidupku. Sering sekali aku 'ngedumel' dalam hati, dasar galak, kuno, cerewet. Ya Tuhan, betapa durhakanya aku. Aah.. Pikirku terhenti, dan kupandangi bapak masih dibalik kaca. Semakin jauh, Aku baru sadar, bapak yang dulu tegap kini mulai membungkuk, rambut yg dulunya hitam pun kin memutih, kulitnya mulai berkeriput. Ku tatap beliau, hilang, mataku berbinar dan mulai meneteskan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar